[DRAFT] Tipologi Kerentanan Iklim pada Penghidupan Berbasis Pertanian: Provinsi Nusa Tenggara Timur

1 Pendahuluan

Penghidupan berbasis pertanian kini makin rentan terhadap perubahan iklim, tetapi informasi mengenai potensi resiko dan kebutuhan adaptasi mereka masih sangat terbatas. Draft dokumen ini disusun untuk mengisi kekosongan ini dengan mengevaluasi berbagai jenis kerentanan yang mempengaruhi mata pencaharian berbasis pertanian di tingkat provinsi. Kami melakukan penilaian kerentanan untuk mengidentifikasi risiko serta penyebabnya, dan potensi adaptasi, dengan fokus pada peningkatan taraf hidup, keberlanjutan produksi komoditas-komoditas kunci, dan pengelolaan lahan secara menyeluruh.

Mengingat tingginya keanekaragaman lanskap di Provinsi Nusa Tenggara Timur, kami memfokuskan perhatian pada kecamatan-kecamatan dengan fitur biofisik dan sosial-ekonomi yang mirip. Ini membantu kami mempermudah tugas dalam mengidentifikasi risiko yang identik antar kecamatan. Kami mendefinisikan area-area homogen ini, atau ‘tipologi,’ dengan menggunakan pengelompokan K-means. Pengelompokan ini didasarkan pada komposit dari indikator biofisik dan sosial-ekonomi. Untuk mempermudah proses pengelompokan, kami menggunakan analisis PCA untuk menyederhanakan dimensi data.

  • Analisis ini bertujuan untuk mengidentifikasi ‘tipologi’ kecamatan-kecamatan, yang memiliki karakter sosial-ekonomi dan lingkungan yang mirip di Provinsi Nusa Tenggara Timur, dengan menggunakan pengelompokan K-means pada data yang disederhanakan oleh PCA.

  • Tipologi tersebut kemudian digunakan untuk mendeskripsikan konteks kerentanan penghidupan berbasis pertanian akibat perubahan iklim di Provinsi Nusa Tenggara Timur dan potensi intervensi untuk meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim.

2 Deskripsi wilayah & Metodologi

Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah sebuah provinsi yang terletak di sebelah tenggara Indonesia yang berbatasan dengan Laut Flores di sebelah Utara, Samudera Hindia di sebelah Selatan, Timor Leste di sebelah timur dan Provinsi Nusa Tenggara Barat di sebelah Barat. Provinsi Nusa Tenggara Timur memiliki luas wilayah sebesar 46,452.38 kilometer persegi. Nusa Tenggara Timur merupakan provinsi kepulauan yang terdiri atas 1.192 pulau yang sebagian besar pulau tersebut tidak berpenghuni. Lima pulau besar di NTT dikenal dengan nama ‘Flobamorata’ yang terdiri atas Pulau Flores, Sumba, Timor, Alor dan Lembata.

Provinsi Nusa Tenggara Timur merupakan rumah bagi sekitar 5,466,290 penduduk berdasarkan data tahun 2022. Kabupaten ini memiliki tingkat ketimpangan ekonomi yang sedang atau moderat, seperti yang tercermin dalam rasio Gini senilai 0.34 pada semester 2 tahun 2022. NTT mencatatkan angka 65,90 untuk Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di tahun yang sama.

Produk Domestik Bruto (PDB, Atas Dasar Harga Berlaku) untuk Provinsi Nusa Tenggara Timur adalah 118.72 triliun Rupiah Indonesia pada tahun 2022. Hal ini menempatkan provinsi NTT sebagai Provinsi urutan ke 27 secara nasional. PDB Provinsi NTT pun masih berada di bawah rata-rata PDB nasional, dimana rata-rata PDB Provinsi yaitu 563.13 triliun rupiah.

Pada tahun 2022, sektor pertanian, kehutanan dan perikanan di Provinsi Nusa Tenggara Timur memainkan peran penting dalam perekonomian lokal, dengan kontribusi sebesar 29% terhadap total Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).

Pertanian memiliki peran penting dalam perekonomian provinsi, dengan diperkirakan 818,853 petani beroperasi di Nusa Tenggara Timur, menurut Survei Pertanian Antar Sensus (SUTAS) tahun 2018 yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Jumlah petani dengan luas lahan garapan <0.5 ha menjadi yang paling dominan dengan jumlah 351,220 rumah tangga. Padi, jagung, dan ubi kayu menjadi tanaman pangan yang paling populer untuk diusahakan oleh petani di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Sedangkan pisang, mangga, jeruk, bawang merah dan cabai rawit menjadi komoditas hortikultura strategis di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Komoditas perkebunan seperti kelapa, jambu mete, kopi dan kakao menjadi yang paling populer untuk dibudidayakan oleh masyarakat di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Dalam sektor perikanan, masyarakat Provinsi Nusa Tenggara Timur lebih memilih perikanan tangkap dibandingkan dengan perikanan budidaya.

Unit analisis terkecil: Kecamatan

Fitur Sumber Satuan
1 Jarak ke perkebunan Peta Tutupan Lahan 2020, KLHK Meter
2 Jarak ke jalan BIG Meter
3 Jarak ke konsesi Dinas Perkebunan Provinsi Sulawesi Selatan (2017 kepohutan) Meter
4 Jarak ke konsesi perhutanan sosial KLHK Meter
5 Jarak ke sungai BIG Meter
6 Jarak ke area bekas terbakar BIG Meter
7 Jarak ke badan air Peta Tutupan Lahan 2020, KLHK Meter
8 Persentase area pertanian Peta Tutupan Lahan 2020, KLHK %
9 Persentase area perkebunan Peta Tutupan Lahan 2020, KLHK %
10 Persentase area berhutan Peta Tutupan Lahan 2020, KLHK %
11 Persentase area semak belukar Peta Tutupan Lahan 2020, KLHK %
12 Persentase badan air Peta Tutupan Lahan 2020, KLHK %
13 Persentase savanna Peta Tutupan Lahan 2020, KLHK %
14 Jarak ke deforestasi Peta Tutupan Lahan 2020, KLHK Meter
15 Luas area deforestasi Peta Tutupan Lahan 2020, KLHK Hektar
16 Persentase area yang bisa ditanami Peta Tutupan Lahan 2020, KLHK %
17 Potensi erosi RUSLE t/ha/tahun
18 Indeks Bahaya Banjir RBI BNPB Indeks
19 Indeks Bahaya Longsor RBI BNPB Indeks
20 Indeks Bahaya Kekeringan RBI BNPB Indeks
21 NDWI 2020 Landsat 8 Indeks
22 NDMI 2020 Landsat 8 Indeks
23 Indeks kekeringan WORLDCLIM 2.1 Indeks
24 Rata-rata suhu tahunan WORLDCLIM 2.1 °C
25 Rata-rata curah hujan tahunan WORLDCLIM 2.1 mm/tahun
26 Rasio elektrifikasi Potensi desa BPS 2019 Rasio
27 Total sekolah tinggi (SMA sederajat) Potensi desa BPS 2019 Unit
28 Total Perguruan Tinggi Potensi desa BPS 2019 Unit
29 Total Rumah Sakit Potensi desa BPS 2019 Unit
30 Total fasilitas kesehatan Potensi desa BPS 2019 Unit
31 Total pasar Potensi desa BPS 2019 Unit
32 Total minimarket Potensi desa BPS 2019 Unit
33 Kejadian banjir 2018-2019 Potensi desa BPS 2019 Kejadian/tahun
34 Korban banjir 2018-2019 Potensi desa BPS 2019 Korban jiwa/tahun
35 Kejadian banjir bandang 2018-2019 Potensi desa BPS 2019 Kejadian/tahun
36 Kejadian kebakaran hutan dan lahan 2018-2019 Potensi desa BPS 2019 Kejadian/tahun
37 Jumlah sistem peringatan dini bencana alam Potensi desa BPS 2019 Unit
38 Jumlah embung Potensi desa BPS 2019 Unit
39 Jumlah pasar desa Potensi desa BPS 2019 Unit
40 Penderita gizi buruk 2018 Potensi desa BPS 2019 Individu
41 Luas Daerah Irigasi KemenPUPR Hektar
42 Jumlah bulan basah WORLDCLIM 2.1 Bulan
43 Elevasi DEMNAS mdpl
44 Kelerengan DEMNAS Derajat
45 Luas area lindung KLHK Hektar
46 Persentase area lindung KLHK %
47 Rasio kesejahteraan TNP2K Rasio
48 Rasio luas kecamatan terhadap luas daratan Potensi desa BPS 2019 Rasio
49 Jangkauan bandara Kemenhub Meter
50 Jarak ke pelabuhan Kemenhub Meter
51 Rasio KK terhadap luas area non-lindung Potensi desa BPS 2019 Rasio

Intisari Analisis Komponen Utama (PCA)
Tingkat Kepentingan Komponen
Komponen Standar Deviasi Proporsi Variansi Proporsi Kumulatif
PC1 2.6923 0.1421 0.1421
PC2 2.3751 0.1106 0.2527
PC3 2.0485 0.0823 0.3350
PC4 1.9016 0.0709 0.4059
PC5 1.5425 0.0467 0.4526
PC6 1.5362 0.0463 0.4989
PC7 1.3683 0.0367 0.5356
PC8 1.3381 0.0351 0.5707
PC9 1.2934 0.0328 0.6035
PC10 1.2103 0.0287 0.6322
PC11 1.1289 0.0250 0.6572
PC12 1.1075 0.0240 0.6812
PC13 1.0694 0.0224 0.7036
PC14 1.0106 0.0200 0.7237
PC15 0.9812 0.0189 0.7426
PC16 0.9633 0.0182 0.7608
PC17 0.9473 0.0176 0.7783
PC18 0.9130 0.0163 0.7947
PC19 0.8677 0.0148 0.8095
PC20 0.8458 0.0140 0.8235
PC21 0.7983 0.0125 0.8360
PC22 0.7754 0.0118 0.8478
PC23 0.7597 0.0113 0.8591
PC24 0.7443 0.0109 0.8700
PC25 0.7341 0.0106 0.8805
PC26 0.7087 0.0098 0.8904
PC27 0.6863 0.0092 0.8996
PC28 0.6789 0.0090 0.9086
PC29 0.6549 0.0084 0.9170
PC30 0.6296 0.0078 0.9248
PC31 0.6205 0.0076 0.9324
PC32 0.5929 0.0069 0.9393
PC33 0.5790 0.0066 0.9458
PC34 0.5663 0.0063 0.9521
PC35 0.5451 0.0058 0.9579
PC36 0.5244 0.0054 0.9633
PC37 0.5123 0.0052 0.9685
PC38 0.4983 0.0049 0.9734
PC39 0.4732 0.0044 0.9778
PC40 0.4574 0.0041 0.9818
PC41 0.4069 0.0032 0.9851
PC42 0.3884 0.0030 0.9881
PC43 0.3866 0.0029 0.9910
PC44 0.3535 0.0024 0.9934
PC45 0.3221 0.0020 0.9955
PC46 0.2898 0.0016 0.9971
PC47 0.2711 0.0014 0.9986
PC48 0.1982 0.0008 0.9993
PC49 0.1758 0.0006 0.9999
PC50 0.0573 0.0001 1.0000
PC51 0.0000 0.0000 1.0000

2.0.1 Interpretasi Komponen Utama (PCs)

PC1: Predominan Demografi dan Jenis Tutupan Lahan (14.213%)

PC2: Predominan Bahaya Hidrologis dan Akses terhadap Air (11.061%)

PC3: Predominan Karakter Iklim (8.228%)

PC4: Predominan Infrastruktur Mitigasi Bencana dan Akses Terhadap Air (7.091%)

PC5: Predominan Akses Terhadap Air (Irigasi) (4.666%)

2.0.2 Diagram pencar 3D tipologi kecamatan-kecamatan di Provinsi Nusa Tenggara Timur

  • Sumbu x,y dan z dari diagram pencar merupakan tiga komponen utama teratas dari hasil PCA.
    • PC1: Predominan Demografi dan Jenis Tutupan Lahan
    • PC2: Predominan Bahaya Hidrologis dan Akses terhadap Air
    • PC3: Predominan Karakter Iklim
  • Tiap-titiknya mewakili sebuah kecamatan di Provinsi Nusa Tenggara Timur
  • Titik yang berwarna sama berarti tergolong dalam tipologi yang sama.

2.0.3 Cluster Validation

Titik ‘siku’ dari sebuah elbow plot adalah titik di mana menambahkan penambahan jumlah kluster tidak banyak memberikan tambahan informasi baru.

Plot siluet yang mendekati +1 menunjukkan pengelompokan yang baik, sementara nilai yang mendekati 0 atau nilai negatif menunjukkan pengelompokan yang tumpang tindih atau tidak baik.

Karakteristik Sosio-ekonomi dan Lingkungan di Berbagai Kelas Tipologi: Analisis Rata-rata dan Standar Deviasi
Variabel Cluster 1: Sentra Niaga dan Jasa Cluster 2 Cluster 3 Cluster 4 Cluster 5 Cluster 6
persentase lahan pertanian 8.12 (9) 42.24 (24.08) 34.9 (18.83) 11.93 (13.49) 36.66 (30.42) 54.32 (30.82)
indeks kekeringan 0.77 (0.06) 0.47 (0.15) 0.74 (0.05) 0.77 (0.05) 0.75 (0.07) 0.76 (0.08)
daerah irigasi ha 39.76 (145.58) 195.28 (537.24) 78.44 (258.95) 0 (0) 47.9 (149.67) 383.33 (805.42)
deforestation area ha 358 (543.32) 969.66 (1562.14) 5032.73 (2680.26) 1291.15 (1604.8) 2482.1 (2577.2) 2325.17 (3149.52)
jarak ke area terbakar 10204.08 (5797.72) 17187.88 (11929.46) 15902.48 (11016.71) 11918.08 (6953.1) 5164.4 (3639.23) 13440.82 (12871.96)
jarak ke area deforestasi 3129.91 (2303.01) 2074.41 (1437.2) 485.6 (541.33) 957.56 (1383.54) 1781.55 (2470.64) 2192.64 (2041.47)
jarak ke perkebunan 37755.45 (33542.99) 31781.51 (24669.07) 22823.69 (15831.39) 77606.7 (34609.3) 66484.25 (37519.25) 32331.51 (39316.4)
jarak ke konsesi perkebunan 89159.74 (76673.88) 105027.18 (62291.95) 58217.47 (40176.61) 201433.57 (30264.42) 147145.6 (63498.68) 80718.95 (63181.04)
distance to port 49678.86 (40174.84) 44446.63 (22154.5) 80379.61 (28598.67) 60504.35 (34719.05) 58972.07 (37963.94) 71327.78 (44396.08)
jarak ke sungai 4665.26 (4888.75) 3865.4 (2601.74) 1785.93 (820.63) 8381.95 (7028.44) 12096.61 (11971.81) 4982.2 (4424.21)
jarak ke jalan 1290.34 (3277.94) 978.97 (481.77) 987.37 (660.49) 1179.85 (760.17) 1644.32 (693.45) 1260.44 (2332.3)
distance to social forestry concession 18227.29 (11566.02) 18288.5 (9925.95) 13326.99 (8843.31) 10623.59 (7256.16) 12262.78 (8771.83) 47103.34 (44349.72)
distance to water body 5575.94 (6357.01) 7788.91 (5150.86) 4346.8 (4092.34) 15494.03 (8400.86) 13188.93 (9105.95) 5375.17 (4934.92)
elevasi 232.8 (194.8) 579.9 (277.11) 508.56 (231.31) 412.07 (185.68) 393.91 (187.07) 152.72 (115.72)
embung 2.65 (5.22) 8.51 (7.65) 12.76 (8.98) 0.82 (1.39) 7.62 (8.12) 27.05 (26.78)
erosion risk 447.46 (483.27) 1611.66 (741.1) 555.79 (457.59) 554.43 (633.44) 1012.65 (648.43) 666.58 (360.21)
indeks risiko banjir 0.09 (0.05) 0.02 (0.02) 0.03 (0.03) 0 (0.01) 0.02 (0.02) 0.13 (0.1)
indeks bahaya kekeringan 0.72 (0.13) 0.66 (0.06) 0.79 (0.08) 0.64 (0.09) 0.69 (0.12) 0.69 (0.1)
indeks risiko longsor 0.11 (0.13) 0.41 (0.22) 0.39 (0.19) 0.48 (0.19) 0.4 (0.16) 0.1 (0.11)
jumlah sistem peringatan dini bencana alam 15.41 (6.33) 28.91 (9.15) 15.08 (6.65) 18 (8.12) 24.03 (11.92) 21.24 (8.76)
kejadian banjir 2018 2019 2.35 (5.62) 3.08 (7.92) 0.7 (2.13) 0.78 (1.85) 2.81 (4.72) 3.29 (4.88)
kejadian banjir bandang 2018 2019 0.06 (0.24) 0.21 (1.17) 0 (0) 0.05 (0.32) 0.1 (0.62) 0.22 (0.84)
kejadian kebakaran hutan dan lahan 2018 2019 0.53 (1.46) 0.17 (0.43) 0.13 (0.49) 0.03 (0.16) 2.12 (3.52) 0.36 (1.12)
korban banjir 2018 2019 0 (0) 0.08 (0.55) 0.05 (0.28) 0 (0) 0.1 (0.52) 0.24 (0.73)
mean precipitation 1315.93 (174.79) 2084.31 (372.21) 1428.59 (105.83) 1266.18 (179.46) 1350.27 (205.74) 1328.75 (229.61)
mean temperature 25.51 (1.27) 23.74 (1.41) 24.06 (1.16) 23.95 (2.08) 24.57 (1.05) 25.69 (0.81)
minimarket 7.94 (6.66) 0.66 (2.85) 0.03 (0.18) 0.4 (1.3) 0.12 (0.81) 0.83 (2.39)
ndmi 2020 0.1 (0.09) 0.27 (0.11) 0.18 (0.06) 0.33 (0.07) 0.21 (0.12) 0.09 (0.08)
ndwi 2020 -0.54 (0.09) -0.67 (0.2) -0.63 (0.09) -0.73 (0.05) -0.62 (0.19) -0.56 (0.12)
pasar desa 0.06 (0.24) 0.53 (0.95) 1.3 (1.3) 0.42 (0.71) 1.28 (1.34) 6.28 (13.11)
penderita gizi buruk 2018 5.18 (6.29) 15.94 (19.66) 17.67 (19.97) 7.05 (9.73) 15.13 (17.84) 29.53 (37.32)
percent protected area ha 5.55 (12.7) 13.39 (13.69) 13.73 (21.41) 9.24 (14.45) 21.83 (20.15) 13.54 (16.14)
percentage of agricultural small holder 8.12 (9) 42.24 (24.08) 34.9 (18.83) 11.93 (13.49) 36.66 (30.42) 54.32 (30.82)
percentage of forested area 6.5 (12.18) 68.02 (63.67) 40.47 (50.21) 28.49 (20.13) 71.99 (51.39) 42.68 (51.6)
percentage of plantation 0.01 (0.05) 0.05 (0.32) 0.31 (1.24) 0 (0.01) 0.25 (1.43) 0.94 (2.58)
percentage of savanna 10.97 (20.38) 9.85 (12.06) 11.07 (11.64) 7.49 (15.56) 24.98 (23.37) 17.21 (18.56)
percentage of shrubland 0.93 (1.79) 12.52 (14.14) 14.26 (17) 4.26 (5.4) 16.68 (15.7) 21.58 (29.72)
percentage of water area 0.14 (0.24) 0.34 (0.85) 2.09 (2.93) 0.01 (0.04) 0.33 (1.54) 1.6 (2.75)
poverty ratio 21.64 (8.48) 57.11 (18.36) 61.64 (10.65) 43.65 (14.44) 49.7 (11.47) 49 (14.15)
protected area ha 227.59 (503.83) 2702.32 (4145.83) 1942.05 (3934.52) 641.58 (985.34) 4922.72 (5962.29) 3561.21 (9690.65)
rasio elektrifikasi 97.6 (3.64) 68.65 (20.78) 57.76 (23.75) 89.26 (14.9) 81.55 (16.88) 74.97 (19.16)
ratio kec to island 0 (0.01) 0.01 (0.01) 0 (0.01) 0.12 (0.35) 0.07 (0.09) 0.11 (0.28)
ratio rt apl 6.08 (5.98) 0.53 (0.38) 0.43 (0.75) 0.91 (0.89) 0.29 (0.24) 0.43 (0.31)
slope 5.32 (3.02) 11.58 (3.48) 9.84 (3) 14.88 (3.71) 12.29 (3.01) 4.95 (2.45)
total faskes1 7 (3.92) 6.43 (3.1) 2.83 (1.63) 3.62 (1.73) 4.82 (2.46) 7.33 (3.91)
total pasar 2.18 (1.67) 1.53 (1.22) 2.16 (1.41) 1.23 (1.05) 3.08 (2.08) 2.38 (1.69)
total pt 3.24 (4.42) 0.19 (0.68) 0.05 (0.28) 0.17 (0.5) 0.01 (0.11) 0.41 (0.97)
total rs 1.88 (1.8) 0.11 (0.32) 0.02 (0.13) 0.07 (0.27) 0.05 (0.36) 0.19 (0.44)
total sekolah tinggi 9.71 (5.19) 3.94 (3.98) 1.92 (1.36) 1.9 (2.1) 2.35 (2.39) 4.07 (3.25)
wetmonths mean 2.79 (1.18) 4.58 (0.64) 3.55 (0.44) 2.49 (0.85) 3.06 (0.7) 3.04 (0.95)
within airport coverage 7.85 (9.21) 0.63 (1.45) 0 (0.02) 1.11 (1.34) 0.15 (0.33) 1.42 (4.18)
Apa itu rata-rata dan standar deviasi?

Rata-Rata

Rata-rata adalah angka yang sering kita gunakan untuk mengetahui gambaran umum dari sekelompok data. Misalnya, jika rata-rata jarak ke jalan terdekat di daerah urban cuma 0,24 km, ini menunjukkan bahwa umumnya daerah tersebut dekat dengan jalan raya.

Standar Deviasi

Standar deviasi (SD) memberitahu kita seberapa besar variasi atau perbedaan antar angka dalam sekelompok data. Semakin tinggi SD, makin besar juga variasinya. Misalnya, rata-rata jarak ke jalan terdekat di daerah urban adalah 0,24 km dengan SD 0,45 km. Ini artinya yang sangat dekat dengan jalan, tetapi juga ada yang jauh—bahkan lebih dari dua kali lipat dari rata-rata.

Nilai standar deviasi (SD) yang besar, seperti contoh diatas, menjadi indikasi bahwa, rata-rata mungkin tidak memberikan gambaran yang mewakili suatu tipologi. Dalam hal ini, standar deviasi memberikan konteks tambahan yang penting untuk memahami sejauh mana data bervariasi.

Kode warna pada tabel dibawah menunjukkan rentang nilai dari variabel yang diberikan untuk masing-masing tipe wilayah. Warna biru gelap menunjukkan nilai yang lebih tinggi, sementara warna yang lebih merah terang menunjukkan nilai yang lebih rendah.

Cluster 1: Sentra Niaga dan Jasa Cluster 2 Cluster 3 Cluster 4 Cluster 5 Cluster 6
arable_land_percent 8.12 42.24 34.90 11.93 36.66 54.32
aridity_index 0.77 0.47 0.74 0.77 0.75 0.76
daerah_irigasi_ha 39.76 195.28 78.44 0.00 47.90 383.33
deforestation_area_ha 358.00 969.66 5032.73 1291.15 2482.10 2325.17
distance_to_burned_area 10204.08 17187.88 15902.48 11918.08 5164.40 13440.82
distance_to_deforestation 3129.91 2074.41 485.60 957.56 1781.55 2192.64
distance_to_plantation 37755.45 31781.51 22823.69 77606.70 66484.25 32331.51
distance_to_plantation_concession 89159.74 105027.18 58217.47 201433.57 147145.60 80718.95
distance_to_port 49678.86 44446.63 80379.61 60504.35 58972.07 71327.78
distance_to_river 4665.26 3865.40 1785.93 8381.95 12096.61 4982.20
distance_to_road 1290.34 978.97 987.37 1179.85 1644.32 1260.44
distance_to_social_forestry_concession 18227.29 18288.50 13326.99 10623.59 12262.78 47103.34
distance_to_water_body 5575.94 7788.91 4346.80 15494.03 13188.93 5375.17
elevasi 232.80 579.90 508.56 412.07 393.91 152.72
embung 2.65 8.51 12.76 0.82 7.62 27.05
erosion_risk 447.46 1611.66 555.79 554.43 1012.65 666.58
indeks_bahaya_banjir 0.09 0.02 0.03 0.00 0.02 0.13
indeks_bahaya_kekeringan 0.72 0.66 0.79 0.64 0.69 0.69
indeks_bahaya_longsor 0.11 0.41 0.39 0.48 0.40 0.10
jumlah_sistem_peringatan_dini_bencana_alam 15.41 28.91 15.08 18.00 24.03 21.24
kejadian_banjir_2018_2019 2.35 3.08 0.70 0.78 2.81 3.29
kejadian_banjir_bandang_2018_2019 0.06 0.21 0.00 0.05 0.10 0.22
kejadian_kebakaran_hutan_dan_lahan_2018_2019 0.53 0.17 0.13 0.03 2.12 0.36
korban_banjir_2018_2019 0.00 0.08 0.05 0.00 0.10 0.24
mean_precipitation 1315.93 2084.31 1428.59 1266.18 1350.27 1328.75
mean_temperature 25.51 23.74 24.06 23.95 24.57 25.69
minimarket 7.94 0.66 0.03 0.40 0.12 0.83
ndmi_2020 0.10 0.27 0.18 0.33 0.21 0.09
ndwi_2020 -0.54 -0.67 -0.63 -0.73 -0.62 -0.56
pasar_desa 0.06 0.53 1.30 0.42 1.28 6.28
penderita_gizi_buruk_2018 5.18 15.94 17.67 7.05 15.13 29.53
percent_protected_area_ha 5.55 13.39 13.73 9.24 21.83 13.54
percentage_of_agricultural_small_holder 8.12 42.24 34.90 11.93 36.66 54.32
percentage_of_forested_area 6.50 68.02 40.47 28.49 71.99 42.68
percentage_of_plantation 0.01 0.05 0.31 0.00 0.25 0.94
percentage_of_savanna 10.97 9.85 11.07 7.49 24.98 17.21
percentage_of_shrubland 0.93 12.52 14.26 4.26 16.68 21.58
percentage_of_water_area 0.14 0.34 2.09 0.01 0.33 1.60
poverty_ratio 21.64 57.11 61.64 43.65 49.70 49.00
protected_area_ha 227.59 2702.32 1942.05 641.58 4922.72 3561.21
rasio_elektrifikasi 97.60 68.65 57.76 89.26 81.55 74.97
ratio_kec_to_island 0.00 0.01 0.00 0.12 0.07 0.11
ratio_rt_apl 6.08 0.53 0.43 0.91 0.29 0.43
slope 5.32 11.58 9.84 14.88 12.29 4.95
total_faskes1 7.00 6.43 2.83 3.62 4.82 7.33
total_pasar 2.18 1.53 2.16 1.23 3.08 2.38
total_pt 3.24 0.19 0.05 0.17 0.01 0.41
total_rs 1.88 0.11 0.02 0.07 0.05 0.19
total_sekolah_tinggi 9.71 3.94 1.92 1.90 2.35 4.07
wetmonths_mean 2.79 4.58 3.55 2.49 3.06 3.04
within_airport_coverage 7.85 0.63 0.00 1.11 0.15 1.42

3 Hasil & Interpretasi Sementara (Draft)

Tipologi Kerentanan Terhadap Perubahan Iklim pada Penghidupan Berbasis Pertanian di Provinsi Nusa Tenggara Timur

Karakteristik

  • 1

  • 2

  • 3

  • 4

  • 5

  • 6

Tantangan Utama

  • a

  • b

  • c

  • d

Karakteristik

  • 1

  • 2

  • 3

  • 4

  • 5

  • 6

Tantangan Utama

  • a

  • b

  • c

  • d

    1. Klaster dengan luas deforestasi tertinggi dan jarak ke deforestasi terdekat dibandingkan klaster lain
    1. Klaster dengan jarak paling dekat ke perkebunan dan konsesi.
    1. Klaster dengan jarak rata-rata paling jauh dari pelabuhan dan bandara.
    1. Klaster dengan jarak paling dekat dengan sungai, jalan, dan badan air. Memiliki persentase badan air terluas dibandingkan dengan klaster lain
    1. Klaster dengan indeks bahaya kekeringan terkecil
    1. Klaster dengan kejadian banjir paling jarang dan tidak pernah mengalami banjir bandang di tahun 2018-2019
    1. Klaster yang 60% rumah tangganya termasuk dalam 40% kesejahteraan terendah dalam data TNP2K
    1. Klaster dengan penduduk yang belum teraliri listrik tertinggi dibandingkan dengan klaster lain.
    1. Klaster dengan ketersediaan fasilitas kesehatan baik puskesmas dan rumah sakit terendah dibandingkan klaster lain

Tantangan Utama

  • b

  • c

  • d

    1. Indeks kekeringan paling tinggi bersama dengan klaster 1
    1. Tidak memiliki area yang teraliri irigasi berdasarkan data daerah irigasi KemenPUPR
    1. Tidak memiliki tutupan lahan perkebunan, mengakibatkan memiliki jarak paling jauh dari tutupan lahan perkebunan dan konsesi
    1. Jarak paling dekat dengan konsesi perhutanan sosial
    1. Persentase tutupan lahan badan air terendah dan Berada paling jauh dari badan air berdasarkan peta tutupan lahan
    1. Indeks bahaya banjir dan kekeringan paling kecil, namun indeks bahaya longsor tertinggi menurut BNPB
    1. Rata-rata curah hujan terendah dan temperatur kedua tertinggi dibandingkan klaster lain
    1. Rata-rata bulan basah terendah dibandingkan klaster lain

Tantangan Utama

  • a

  • b

  • c

  • d